Pengelolaan Sampah Menjadi Produk Bernilai Ekonomi Berbasis 3R dan Partisipasi Masyarakat

Dosen  Departemen Matematika, Fakultas Sains dan Matematika, Universitas Diponegoro (UNDIP) melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat di kelurahan Rowosari, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang. Kegiatan ini di ketuai oleh Prof. Dr. Widowati, M.Si, dengan anggota Dr. Jafron Wasiq Hidayat, Prof Dr. Titik Ekowati dan Satriyo Adhy, M.T serta melibatkan mahasiswa dari berbagai program studi di Universitas Diponegoro.

Gambar 1. Tim Pengabdian masyarakat bersama perangkat Kelurahan Rowossari dan mahasiswa 

Prof. Widowati selaku Ketua Tim Pengabdian IDBU (Ipteks Bagi Desa Binaan Undip) menyampaikan bahwa kegiatan diawali dengan sosialisasi Program Edukasi dan Inovasi Pengelolaan Sampah Menjadi Produk Bernilai Ekonomi Berbasis 3R dan Partisipasi Masyarakat yang diikuti oleh perangkat Kelurahan Rowosari, kelompok PKK, karang taruna, kelompok tani, serta Tim KKNT-IDBU 50 sebanyak 30 mahasiswa dari FSM, FH, FPP, FKM, FISIP, FPIK, FPSI, FEB, FT, FIB, FK, dan Sekolah Vokasi Universitas Diponegoro. Kegiatan diawali dengan sosialisasi yang bertujuan untuk memberikan pemahaman mengenai pentingnya pengelolaan sampah berbasis prinsip Reduce, Reuse, Recycle (3R) sebagai upaya mengurangi timbunan sampah sekaligus meningkatkan nilai ekonomi melalui pemberdayaan masyarakat. Selanjutnya, tim melaksanakan edukasi, pelatihan, dan pendampingan mengenai teknik pemilahan sampah sejak dari sumbernya, pengolahan sampah organik menjadi kompos, serta pemanfaatan sampah anorganik menjadi berbagai produk kreatif yang memiliki nilai jual. Kegiatan ini disambut dengan antusias oleh Lurah Rowosari, Bp. Eko Pudjo Harijadi, SIP beserta masyarakat.

“Inovasi yang kami hadirkan tidak hanya berfokus pada pengurangan volume sampah, tetapi juga mendorong masyarakat untuk mengubah sampah menjadi produk bernilai ekonomi melalui penerapan prinsip 3R dan partisipasi aktif dari masyarakat Rowosari,” ujar Prof. Widowati.  Menurutnya, program ini dirancang agar mampu membangun kesadaran lingkungan sekaligus menciptakan peluang usaha baru yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat Kelurahan Rowosari. Tim pengabdian tidak hanya memberikan pelatihan, tetapi juga melakukan pendampingan secara berkelanjutan agar masyarakat mampu mengelola sampah secara mandiri dan berkesinambungan.

Gambar 2. Pemilahan sampah yang akan di daur ulang

Program ini mendapat sambutan antusias dari Pemerintah Kelurahan Rowosari bersama kelompok PKK, karang taruna, kelompok tani, pelaku UMKM, dan masyarakat yang berkomitmen mendukung pengelolaan sampah berbasis partisipasi masyarakat sebagai upaya menciptakan lingkungan yang bersih, sehat, dan produktif. Tim pengabdian menyampaikan bahwa kegiatan ini diharapkan dapat berkontribusi terhadap pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan (SDG 11) melalui pengelolaan sampah yang lebih baik, Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab (SDG 12) melalui penerapan prinsip ekonomi sirkular dan pemanfaatan kembali limbah, Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi (SDG 8) melalui penciptaan peluang usaha berbasis produk daur ulang, serta Penanganan Perubahan Iklim (SDG 13) melalui pengurangan timbulan sampah dan peningkatan kesadaran masyarakat terhadap pelestarian lingkungan.

Salah satu rangkaian utama kegiatan pengabdian kepada masyarakat adalah praktik pembuatan pestisida nabati yang memanfaatkan bahan-bahan alami yang mudah diperoleh di lingkungan sekitar. Pada kegiatan ini, anggota Kelompok Tani Rukun Santoso mendapatkan pelatihan mulai dari pemilihan bahan baku lokal, proses peracikan, fermentasi, hingga teknik aplikasi pestisida nabati pada tanaman. Selain bertujuan mengurangi ketergantungan terhadap pestisida kimia sintetis, kegiatan ini juga mendorong pemanfaatan sumber daya lokal yang lebih ekonomis, aman bagi kesehatan petani, serta ramah terhadap lingkungan. Ketua tim pengabdian, Prof. Widowati, menyampaikan bahwa pengabdian ini merupakan bagian dari upaya pemberdayaan masyarakat agar mampu memanfaatkan potensi alam di sekitarnya sebagai solusi pertanian yang berkelanjutan. “Kami berharap para petani tidak hanya memahami cara membuat pestisida nabati, tetapi juga mampu memproduksi dan menerapkannya secara mandiri sehingga dapat mengurangi penggunaan bahan kimia sintetis, menekan biaya produksi, serta menjaga kelestarian lingkungan,” ujarnya. Sementara itu, perwakilan Kelompok Tani Rukun Santoso mengapresiasi kegiatan tersebut karena memberikan pengetahuan dan keterampilan yang dapat langsung diterapkan di lahan pertanian. “Pelatihan ini sangat bermanfaat bagi kami karena bahan-bahannya mudah diperoleh di sekitar desa dan proses pembuatannya relatif sederhana. Kami optimistis pestisida nabati ini dapat menjadi alternatif yang lebih aman dan hemat untuk mendukung hasil pertanian yang berkualitas,” ungkapnya.

Gambar 3. Pendampingan dan Pengolahan sampah organik menjadi pupuk kompos

Salah satu rangkaian utama kegiatan pengabdian adalah pelatihan pengolahan sampah organik menjadi pupuk kompos sebagai upaya mengurangi timbunan sampah sekaligus menciptakan produk yang bermanfaat bagi masyarakat. Dalam kegiatan ini, tim pengabdian memberikan edukasi dan praktik langsung mengenai teknik pemilahan sampah organik rumah tangga, proses pembuatan kompos, hingga pemanfaatannya sebagai pupuk untuk tanaman pekarangan dan lahan pertanian. Masyarakat tampak antusias mengikuti setiap tahapan pelatihan karena teknologi yang diterapkan sederhana, mudah diaplikasikan, dan memanfaatkan bahan-bahan yang tersedia di lingkungan sekitar.

Gambar 4. Pelatihan pelabelan dan pengemasan pupuk organik

Setelah melalui proses pengolahan sampah organik menjadi pupuk yang berkualitas, peserta dibekali keterampilan dalam teknik pengemasan produk agar memiliki nilai jual yang lebih tinggi. Kegiatan ini tidak hanya berfokus pada aspek teknis pengemasan, tetapi juga memberikan pemahaman mengenai pentingnya desain kemasan, pencantuman informasi produk, serta strategi pemasaran yang mampu meningkatkan daya saing pupuk organik di pasaran.

Melalui pelatihan ini, masyarakat diajak untuk melihat sampah organik sebagai sumber daya yang memiliki potensi ekonomi. Dengan kemasan yang menarik, higienis, dan informatif, pupuk organik hasil olahan warga diharapkan mampu menjangkau pasar yang lebih luas, mulai dari kebutuhan rumah tangga, kelompok tani, hingga pelaku usaha pertanian. Pendekatan berbasis prinsip 3R yang dipadukan dengan partisipasi aktif masyarakat menjadi bukti bahwa pengelolaan sampah tidak hanya berkontribusi terhadap pelestarian lingkungan, tetapi juga membuka peluang usaha baru yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat di Kelurahan Rowosari.