

Gringging (06/08/2026) – Pendidikan yang inklusif, merata, dan berkualitas adalah fondasi utama untuk menciptakan SDM yang baik dan berkualitas. Dalam rangka mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) terkait Pendidikan Bermutu, Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tim II Universitas Diponegoro 2026 melakukan survey secara langsung untuk konfirmasi data Anak Tidak Sekolah (ATS) di Desa Gringging, Kecamatan Sambungmacan, Kabupaten Sragen.
Melalui program kerja bertajuk “Misi 0% ATS: Analisis Data Aktual Anak Tidak Sekolah (ATS) dan Pengaruhnya Bagi Desa Gringging”, data kependudukan diolah menjadi pijakan strategis bagi pemerintah desa untuk menuntaskan masalah putus sekolah. Program ini dilaksanakan oleh Guruh Firmansyah Wana Samudra, mahasiswa program studi Matematika yang menggunakan pendekatan matematika demografi deskriptif untuk melihat kondisi riil pendidikan di desa tersebut dengan koordinasi bersama pemerintah desa. Berdasarkan hasil survei lapangan, ditemukan fakta yang sangat menggembirakan terkait tingkat partisipasi pendidikan di Desa Gringging.
Dari total 1.077 populasi anak usia sekolah di Desa Gringging, hanya terdapat 5 anak yang berstatus ATS. Ini berarti rasio ATS di Desa Gringging sangat rendah, yakni hanya 0,46%. Dengan tingkat partisipasi sekolah yang mencapai 99,54%, pencapaian visi 0% ATS bukanlah hal yang mustahil bagi Desa Gringging. Desa ini hanya tinggal menyelesaikan last mile atau sisa kurang dari setengah persen tersebut.


Hal ini tentunya didasari oleh tingginya kesadaran masyarakat di Desa Gringging terkait Pendidikan. Bahkan sudah banyak program terkait pendidikan dari pemerintah desa yang terlaksana dengan baik. Mulai dari sekolah rakyat bagi Masyarakat yang kurang mampu, hingga lintas sektoral yang berfungsi untuk monitoring siswa di sekolah menengah agar bisa menyelesaikan Pendidikan sesuai dengan target wajib sekolah 12 tahun. Disisi lain, ATS yang ditemukan pun bukan kasus yang baru terjadi, melainkan sudah terjadi beberapa tahun yang lalu. Dan untuk saat ini, anak-anak tersebut sudah memiliki kesadaran dan ingin melanjutkan sekolah kejar paket agar tetap bisa mengenyam pendidikan yang layak dan sesuai. Hal ini teradi karena pemerintahan desa yang terus fokus untuk menjalankan programnya, salah satunya program Pendidikan. Kegiatan survey ini juga didukung oleh Desa Gringging sebagai sarana untuk pembaruan data terkait ATS untuk kemudian dapat ditanggulangi secepat mungkin.
Hasil pengolahan data demografis ini diwujudkan dalam bentuk poster informatif yang kini terpasang di titik-titik publik strategis, yaitu Mading Balai Desa Gringging dan seluruh Sekolah Dasar Negeri di Desa Gringging. Penempatan poster ini bukan tanpa alasan, melainkan sebuah strategi intervensi sosial yang dirancang bersama perangkat desa.
Langkah ini dirancang untuk menumbuhkan kesadaran preventif sekaligus efek jera psikologis (social pressure) yang positif. Di SD Negeri, pesan ini menargetkan murid agar tidak menghentikan pendidikanya setelah lulus jenjang dasar. Sementara di Balai Desa, transparansi data ini diharapkan mampu membangun kebanggaan warga atas pencapaian 99,54% desa, sekaligus menumbuhkan “budaya malu” kolektif jika masih ada warga yang menyia-nyiakan kesempatan meraih masa depan karena putus sekolah.
Kolaborasi antara pendekatan eksak mahasiswa KKN Undip dan ketegasan perangkat Desa Gringging membuktikan bahwa data yang diolah dengan tepat dapat bertransformasi menjadi kebijakan sosial yang berwibawa. Lewat pendataan ini, Desa Gringging selangkah lebih dekat menjadi desa percontohan sadar pendidikan yang sepenuhnya memenuhi cita-cita SDGs.